Hukuman Seumur Hidup Untuk Herry Wirawan di Sebut DPR Masih Kurang

ZONATALK.com – Terdakwa pemerkosa 13 santri di Bandung, Herry Wirawan telah di vonis bersalah dengan di beri hukuman seumur hidup penjara sang majelis hakim. Terkait hal tersebut, Wakil koordinator Komisi III DPR Ahmad Sahroni menilai vonis tadi di rasa tidak adil dan seharusnya bisa lebih daripada ini.

“Putusan ini menurut saya telah mencederai perasaan para korban maupun keluarganya. Sebab kurang ssesuai dan jauh dari apa yg sudah pelaku perbuat,” kata dia dalam keterangannya, Selasa (15/dua/2022).

Politikus NasDem itu menyebut, Kejati Jawa Barat tengah menimbang buat mengajukan banding terhadap putusan tersebut. Karena itu, beliau mendukung Jika niatan tersebut di lakukan.

“saya menjadi wakil koordinator komisi III sangat mendukung Bila Pak Kajati mau banding. Terutama buat hukuman kebiri kimianya. Sebab tentu harus kita perjuangkan eksekusi maksimal bagi para pelaku biadab predator seksual seperti Herry Wirawan ini,” istilah Sahroni.

Baca Juga; Penyebab Kematian Tahanan Polres Cilegon, Ungkapan Propam Polda Banten

Hukuman Seumur Hidup Herry Wirawan

Sebelumnya, guru sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Madani Boarding School, Bandung, Jawa Barat, Herry Wirawan, hanya tertunduk lesu sepanjang bepergian sidang.

Dalam sidang ini.! Majelis Hakim menyatakan Herry Wirawan terbukti bersalah memperkosa belasan santri yg di lakukan semenjak 2016 hingga 2021 lalu. Beliau pun di vonis menggunakan eksekusi seumur hayati penjara.

“Mengadili, menjatuhkan pidana kepada terdakwa sang sebab itu pidana seumur hidup,” istilah ketua Majelis Hakim Yohannes Purnomo Suryo Adi, Selasa (15/dua/2022).

Baca Juga; Herry Wirawan Kasus Seksual di Vonis Seumur Hidup

Perbuatan Herry sudah terbukti bersalah sesuai dengan Pasal 81 ayat (1), ayat (tiga), serta (5) jo Pasal 76 D UU RI angka 17 Tahun 2016 wacana Perubahan atas Undang-undang nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan Anak jo Pasal 65 ayat (1) KUHP sebagaimana dakwaan pertama.

Selain itu, terdakwa pula di eksekusi buat membayar restitusi terhadap para korban dengan jumlah yang mencapai hampir Rp 300 juta.

Majelis Hakim tidak menjatuhkan hukuman meninggal serta eksekusi kebiri kimia pada Herry Wirawan. Hakim beropini eksekusi mati bertentangan dengan hak asasi manusia (HAM).

“sesuai pembelaan terdakwa, eksekusi mati bertentangan dengan HAM. Serta pada pokoknya, terdakwa menyesal atas kesalahan,” jelas koordinator majelis hakim ketika membacakan amar putusan.

Sumber : liputan6