Iranofobia dan Oleh-Oleh Lawatan Biden di Timur Tengah – ZonaTalk


Berita Baru, Teheran – Iran menuduh Amerika Serikat (AS) mencoba menghasut ketegangan di Timur Tengah dengan menyebarkan sentimen anti-Iran atau Iranfobia saat tur ke Timur tengah pekan kemarin.

“AS sekali lagi berusaha menciptakan ketegangan dan krisis di seluruh kawasan dengan mengandalkan kebijakan Iranofobia yang gagal,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Nasser Kanani, dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu (17/8).

Tidak hanya itu, Iran juga menuding AS sebagai “negara pertama yang menyebarkan bom nuklir, yang terus-menerus mengganggu urusan negara lain, telah meluncurkan konflik bersenjata, dan telah menjual sejumlah besar senjata di seluruh kawasan”.

Pernyataan itu keluar sebagai tanggapan atas sikap dan dukungan yang berkelanjutan dari AS terhadap Israel, musuh bebuyutan Iran.

Nasser Kanani mengatakan AS adalah “aksesori utama untuk melanjutkan pendudukan di tanah Palestina, kejahatan harian rezim terhadap Palestina, dan apartheid”.

Pernyataan itu juga muncul sehari setelah Biden mengunjungi Israel dan Arab Saudi, sebuah perjalanan pertamanya sebagai presiden AS yang bertujuan untuk melawan pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah.

Pada pertemuan puncak di Jeddah yang mempertemukan enam anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC), serta Mesir, Yordania dan Irak, Biden berjanji kepada para pemimpin Arab bahwa AS tidak akan menarik diri dari wilayah tersebut.

“Kami tidak akan pergi begitu saja dan meninggalkan kekosongan untuk diisi oleh China, Rusia, atau Iran,” katanya.

Awal pekan ini, Presiden Iran Ebrahim Raisi menjanjikan “tanggapan yang keras dan disesalkan” jika AS dan sekutunya membuat “kesalahan” mengenai Iran.

Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan selama kunjungan Biden ke Israel serta di Jeddah, ada penekanan pada upaya pimpinan AS untuk mencegah Iran mencapai senjata nuklir.

Dalam pernyataannya, kementerian luar negeri Iran memperbarui janji Teheran untuk tidak mencari senjata nuklir dan menolak “tuduhan palsu” yang dibuat oleh AS karena “menutup mata” terhadap program nuklir Israel selama beberapa dekade.

Israel secara luas diyakini sebagai satu-satunya kekuatan di Timur Tengah yang memiliki lusinan senjata nuklir, tetapi Israel menolak untuk menyatakannya atau mengizinkan inspeksi internasional.

Pernyataan bersama yang ditandatangani di Jeddah juga berfokus pada “ancaman yang meningkat” yang ditimbulkan oleh kendaraan udara tak berawak yang dikembangkan oleh Iran.

Pada hari Jumat, Iran meluncurkan kapal dan kapal selam yang mampu membawa drone bersenjata.

AS menuduh Teheran mencoba menjual drone bersenjata ke Rusia untuk digunakan dalam perang di Ukraina. Iran membantah klaim itu, dengan mengatakan tidak akan melakukan apa pun untuk memperburuk konflik.



ZONATALK

Sumber: Beritasatu.co