Masa Karantina Menjadi 3 Hari Untuk Pelaku Perjalanan Luar Negeri

ZONATALK.com – Pemerintah berencana mengurangi durasi karantina bagi pelaku perjalanan luar negeri (PPLN) jadi tiga hari terhadap 1 Maret 2022 mendatang. Informasi ini di sampaikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno di dalam Weekly Press Briefing secara virtual terkait hasil rapat terbatas (ratas) pemberlakuan pembatasan kesibukan penduduk (PPKM), Senin (14/2/2022).

“Jika suasana membaik, pemerintah berencana hari karantina di turunkan jadi tiga hari bagi yang udah mendapat booster. Rencananya merasa di kerjakan terhadap 1 Maret 2022,” kata Sandiaga.

Namun, ia menambahkan bahwa para pelaku perjalanan luar negeri selamanya harus jalankan tes PCR sebagai entry test dan exit test terhadap hari ketiga.

“Bagi yang udah selesai karantina, juga di himbau selamanya tes PCR mandiri di hari kelima,” tegas Sandiaga.

Baca Juga : Keputusan Pengadilan Tentang Klaim Kepemilikan Lahan Warga Yang Viral, MotoGP Mandalika

karantina pelaku perjalanan luar negeri bisa di hapuskan, tetapi..

Jika kesibukan dan suasana pandemi Covid-19mulai membaik, dan juga penduduk membuktikan kepatuhan yang tinggi, maka pemerintah dapat pertimbangkan untuk menghapus kebijakan karantina bagi pelaku perjalanan luar negeri.

“Seandainya trennya tetap membuktikan hasil yang baik dan tingkat kepatuhan penduduk kita, dan juga peningkatan vaksinasi, maka pemerintah pertimbangkan 1 April (2022) dapat jadi tanggal bebas karantina,” lanjut dia.

Baca Juga: Demonstran Anti-Vaksin COVID-19 Di Prancis Utara Lalu Menuju Brussels

Dengan syarat, pelaku perjalanan luar negeri harus udah mendapat vaksin dosis ke-2 sekaligus booster.

Kebijakan ini di harapkan Sandiaga untuk jadi acuan bagi para pelaku industri, khususnya pariwisata bahwa Indonesia udah menuju kebangkitan dan kepulihan ekonomi.

“Tolong ini jadikan acuan dan pedoman bagi pelaku industri, bahwa we are heading into the right direction. Tapi selamanya harus hati-hati,” ujar Sandiaga.

Salah satu yang harus di tingkatkan adalah kepatuhan penduduk terhadap protokol kebugaran (prokes). Pasalnya, ketidakpatuhan penduduk terhadap prokes jadi tidak benar satu penyebab tingginya kasus Omicron di Indonesia.

“Karena kita sanggup laporan kecuali tingkat prokes, pakai masker, cuci tangan, jaga jarak dan lain-lain turun drastis jadi 50 persen. Oleh karena itu, pakai masker, rajin cuci tangan, dan sudah pasti jaga jarak,” sambung Sandiaga.

Sumber : https://www.kompas.com