Pengamat: Israel Cenderung Menyerang Palestina Demi Mendulang Suara di Pemilu November – ZonaTalk


Berita Baru, Gaza – Di tengah persiapan pemilu, Israel tetap gencar melakukan serangan di Gaza. Yang terbaru, pada Jumat (5/8), Israel meluncurkan rudal ke hampir seluruh kantong-kantong Palestina hingga menewaskan 10 orang, termasuk seorang gadis berusia 5 tahun.

Israel rencananya akan mengadakan pemilihan umum pada bulan November mendatang. Namun, hajatan tersebut tidak mengendorkan serangan terhadap Palestina.

Beberapa pengamat perang mengatakan bahwa langkah Israel tersebut merupakan tindakan yang disengaja dengan tujuan untuk mendapatkan legitimasi dari publik dan para pemukim.

“Mari juga diingat bahwa pemilihan Israel akan datang November ini, dan ada kecenderungan para pemimpin Israel untuk menggunakan Gaza sebagai senjata untuk mendulang suara para pemukim Israel,” kata Mariam Barghouti, seorang peneliti yang berbasis di Ramallah kepada Al Jazeera.

Serangan Israel terbaru terjadi pada Jumat (5/8) kemarin, di mana Israel menggempur Palestina hingga menewaskan 10 orang, termasuk seorang gadis berusia lima tahun, seorang wanita berusia 23 tahun, serta Taysir al-Jabari, seorang komandan sayap militer Jihad Islam.

“Israel mempersenjatai pemukimnya di Tepi Barat untuk menembak dan membunuh warga Palestina dan tidak [melakukannya] di bawah rantai komando militer. Jadi apa yang kita lihat sekarang adalah intensifikasi strategi militer Israel yang ‘mengejutkan dan mengagumkan’,” imbuh Mariam Barghouti.

Di sisi lain, menurut laporan dari Times of Israel, Kelompok Jihad Islam mengatakan pihaknya menembakkan lebih dari 100 roket ke Israel sebagai pembalasan atas serangan udara Israel pada Jumat malam.

Peluncuran roket dari Kelompok Jihad Palestina dimulai sesaat sebelum jam 9 malam waktu setempat, dengan sirene meraung di Ashkelon, Ashdod, Sderot, Yavne, dan komunitas lain di selatan.

Beberapa rudal pencegat Iron Dome canggih Israel terlihat menyerang roket yang datang di atas Israel selatan dalam beberapa rentetan terpisah.

Namun, tidak ada laporan tentang korban atau kerusakan dari pihak Israel akibat dampak serangan Kelompok Jihad.

Saling balas serangan antara Israel dan kelompok Jihad Islam Palestina menimbulkan kekhawatiran akan perang.

Padahal, 15 bulan yang lalu juga terjadi perang antara Israel dan Kelompok Jihad Islam yang menewaskan lebih dari 260 orang.

“Semua orang gugup, tidak ada keinginan untuk berperang,” kata Tamer Qarmout dari Institut Studi Pascasarjana Doha, yang berasal dari Gaza dan memiliki keluarga di sana.

Serangan mematikan Israel itu terjadi setelah pasukan Israel menangkap Bassam al-Saadi, seorang anggota senior kelompok bersenjata, awal pekan ini.

Al-Saadi ditahan selama serangan Israel di kota Jenin, Tepi Barat, di mana seorang remaja terbunuh.

“Gaza telah menyaksikan empat atau lima konflik besar selama 15 tahun terakhir. Kami masih berbicara tentang rekonstruksi Jalur Gaza. Gaza tidak pernah benar-benar pulih, hanya hidup dari konflik ke konflik,” kata Tamer Qarmout kepada Al Jazeera.

Sebelum pembunuhan al-Jabari, Israel memperketat cengkeramannya di daerah kantong pantai, yang sudah 15 tahun berada di bawah blokade brutal, dengan menutup semua penyeberangan perbatasan.

Israel juga menutup jalan di sekitar Gaza awal pekan ini dan mengirim bala bantuan ke perbatasan saat bersiap untuk tanggapan setelah penangkapan al-Saadi.

Serangan hari Jumat terjadi setelah serangan sebelumnya, termasuk serangan pesawat tak berawak di Jalur Gaza, membuat beberapa pengamat menyarankan eskalasi konflik Palestina-Israel saat ini adalah langkah yang sudah diperhitungkan.

Tepi Barat juga mengalami peningkatan serangan Israel oleh tentara dan pemukim, serta penangkapan warga Palestina dan penghancuran rumah.



ZONATALK

Sumber: Beritasatu.co