Uni Eropa Telah Bekukan 13,8 Miliar Euro Aset Rusia – ZonaTalk


Berita Baru, Brussels – Uni Eropa telah bekukan 13,8 miliar euro aset Rusia atau sekitar Rp 207,9 triliun aset yang dipegang oleh oligarki Rusia, individu dan entitas lain yang dikenai sanksi atas ‘invasi’ Rusia ke Ukraina.

Hal itu disampaikan oleh Komisaris Kehakiman Uni Eropa (UE) Didier Reynders pada Selasa (12/7), menambahkan sebagian besar dari itu berasal dari lima dari 27 negara anggota UE saja.

“Untuk saat ini, kami telah membekukan dana yang berasal dari oligarki dan entitas lain senilai 13,8 miliar euro, itu cukup besar,” kata Komisaris Kehakiman UE Didier Reynders, dikutip dari Reuters.

Didier Reynders juga meminta negara lain untuk bertindak dimana saat ini blok tersebut saat ini diketahui memiliki 98 entitas dan hampir 1.160 individu masuk daftar hitam untuk peran Rusia di Ukraina.

“Tetapi sebagian besar, lebih dari 12 miliar berasal dari lima negara anggota sehingga kami perlu terus meyakinkan orang lain untuk melakukan hal yang sama,” katanya kepada wartawan saat tiba di pertemuan para menteri kehakiman nasional di ibukota Ceko, Praha.

Sayangnya, Reynders tidak mengidentifikasi lima negara tersebut. Reynders mengharapkan kesepakatan politik akhir setelah musim panas pada alat hukum baru untuk membuat pelanggaran atau mencoba untuk melewati sanksi pelanggaran pidana di seluruh Uni Eropa.

Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk mengekang pengelakan pembatasan dengan mentransfer aset kepada anggota keluarga yang tidak dikenai sanksi. Kebijakan tersebut juga diharapkan dapat berlaku pada musim gugur.

“Jika demikian, uang itu akan dikembalikan ke dana untuk rakyat Ukraina, untuk mengembalikan uang itu kepada rakyat Ukraina setelah penyitaan aset,” katanya.

Reynders dan para menteri juga membahas kerja sama dengan Eurojust, badan blok untuk peradilan pidana, dalam membangun bukti dugaan kejahatan perang di Ukraina.

Reynders mengatakan Eurojust akan menyimpan semua bukti dan harus bekerja sama erat dengan negara-negara anggota blok itu, 14 di antaranya memiliki penyelidikan nasional mereka sendiri yang terlibat dalam perang.

“Yang paling penting adalah koordinasi yang sangat baik, tidak menduplikasi situasi yang berbeda, dan mengumpulkan semua bukti di tempat yang sama,” kata Reynders.



ZONATALK

Sumber: Beritasatu.co